Reaksi keras terhadap penayangan komik Rasulullah SAW: Perbuatan sia-sia kah?

This item was filled under [ Pemberitaan ]

Hari ini, setelah “bertapa di kampus” selama 2 hari, saya baru sempat memperhatikan lagi berita hangat di beberapa media. Salah satu pembahasannya, lagi-lagi tentang orang orang iseng yang bikin kartun Rasulullah Muhammad. SAW dan dimuat di situs web.

Terus terang saya merasa prihatin dengan peristiwa ini. Saya kasihan melihat begitu banyak energi umat islam yang tersedot untuk merespon hal-hal kecil kaya gini. Seakan-akan kita kelebihan energi dan tidak ada hal lagi yang lebih baik, yang jadi prioritas untuk kita bangun, ditengah kemunduran umat yang makin terpuruk. Seolah gak ada lagi yang bisa dijadikan ladang jihad dan amal sholeh.

Faktanya, mulai Menteri Dekominfo, ketua MUI, puluhan pemuka Islam, belasan pengamat menghabiskan waktu mereka untuk konferensi pers, ribuan kader islam dan jutaan pemirsa umat islam, dengan semangat menyala-nyala membincangkan dan memberikan pernyataan, bahkan kutukan beberapa kader partai yang malah sudah mengancam turun ke jalan segala untuk demonstrasi. Berapa Man Hour terpakai sia-sia hanya karena masalah pemuatan kartun ini, yang terbuang percuma?

Kalau saja semua energi umat yang merespon ini kita agregasi, termasuk waktu dan dana umat yang tersedot untuk berbagai aktivitas ini? Tentu banyak sekali.. Coba kalau seumpamanya kita gunakan untuk hal lain, untuk hal sederhana semisal membangun sekolah atu fasilitas umum lain? Berapa gedung sekolah yagn bisa kita bangun?

Hal lain yang menurut saya salah kaprah adalah bahwa, bisa jadi, umat islam Indonesia ini terlalu berlebihan dalam menginterpretasi Riwayat Rasulullah SAW.

Dalam sudut pandang saya dalam menginterpretasi Al-hadist yang relevan dengan peristiwa ini, Rasullah  SAW by Him Self , saya kira tidak pernah menganggap diri Beliau sebagai manusia suci yang tidak boleh dilecehkan orang lain,

Mungkin kita begitu sering mendengar Al-hadist yang meriwayatkan bagaimana pada keseharian dalam masa dakwah di tahun-tahun awal perjuangan Islam, Rasulullah SAW mendapat berbagai hinaan, caci maki, bahkan dilempar ke tubuh Beliau berbagai kotoran hewan, isi perut hewan, oleh musuh2nya. Apa reaksi Beliau? Marahkah? Mengajak umat demo? Membalas? Memerangi?… Jawabnya, tidak semua itu…Seperti yang bisa kita ketahui dalam riwayat ini, Rasulullah SAW tidak pernah tersulut emosinya oleh hal-hal kecil ini. Karena apa? Karena memang hal ini bukanlah merupakan prioritas dakwah beliau, merespon pada hal-hal kecil. Karena beliau sebagai pemimpin mempunyai visi yang besar untuk mensejahterakan seluruh umat manusia.

Lalu ada lagi alasan sebagian umat Islam bahwa reaksi mereka ini karena ada hadist yang menyebutkan bahwa Rasullah melarang rupa Beliau dilukis atau divisualisasi. Lepas dari maksud dan latar belakang keluarnya Sabda beliau itu sendiri, bagi saya tentu saja tidak serta-merta bahwa larangan tersebut berlaku oleh orang luar Islam yang nota benenya memang mengingkari dan memusuhi Islam.

Dari kedua Al Hadist di atas kok malah ummatnya malah menganggap Rasulullah SAW sebagai manusia suci yang tidak boleh “disentuh”? Dan malah memusuhi pihak yagn dianggap melakukan pelecehan ini? Menurut saya tindakan yang lebih baik adalah memberi contoh dan teladan sebagai umat Islam, Umat yang lahir sebagai Rahmatan Lil’alamin, sehingga mereka tergerak hatinya untuk ikut ajaran islam. Persis seperti yang dilakukan Rasullah sendiri seperti riwayat yagn pertama kita bahas.

Dalam sudut pandang psikologis, bila kita mengacu pada experiment yang dilakukan oleh B.F. Skinner seorang Ilmuwan psikologi yang sangat terkenal dengan Teori Operant Conditioning, setiap reaksi yang ditujukan pada prilaku tertentu bisa menguatkan tindakan prilaku tersebut. Ringkasannya Teori tersebut begini:

Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulu-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.

Operant Conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang.

Yang perlu diwaspadai, dalam perkembangan teori ini diketahui bahwa bentuk reaksi yang dianggap reinforcement negatif bisa jadi berubah sebagai reinforcement positif, bila reaksi itu sebenarnya dipersepsikan sebagai penghargaan (reward) positif. Misalnya: Pada kasus-kasus kenakalan anak-anak terjadi karena setiap hukuman yang diasosiasikan pada kenakalannya itu persepsikan si anak sebagai bentuk perhatian dari orang tuanya. Maka kenakalan si anak semakin lama semakin parah, karena hanya dengan melakukan kenakalannyalah si anak mendapatkan perhatian dari orangtuanya.

Nah, dalam kasus bagaimana reaksi umat Islam terhadap prilaku iseng dari si pembuat komik ini, bisa saja prilaku ini dipersepsikan sebagai penguatan positif, sehingga tentu saja akan membuat prilaku ini bukan malah hilang, tapi makin menguat. Bayangkan…, dengan iseng-iseng membuat komic saja..mereka bisa dapat perhatian dan reaksi dari jutaan umat Islam. Tindakan kita secara tidak langsung membuat prilaku ini (membuat dan menayangkan komik Rasulullah SAW) semakin menguat dan akan terus berulang. .

Kesimpulan:

  • Reaksi berlebihan terhadap pemuatan ini merugikan Islam karena menyedot energi umat Islam yang seyogyanya bisa digunakan dalam perjuangan dan pembangunan umat agar lebih baik
  • Rasulullah tidak mengajarkan kita untuk mengkultuskan Beliau, apalagi melakukan pembalasan terhadap hal-hal kecil yang dilakukan oleh penentang Islam, tapi beliau memberi maaf dan contoh-contoh baik sehingga orang tertarik mengikut ajaran Islam
  • Secara psikologis, reaksi umat Islam seperti ini bisa menguatkan prilaku yang sama dikemudian hari, dan seterusnya semakin menghabiskan energi umat Islam untuk hal-hal yang tidak jadi prioritas jihad dan perjuangan

Sumber: Belajar Membaca dan Menulis

Rate this topic:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Popularity: 3,173 views
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.